Sekolah Sebagai Sebuah Ekosistem Pendidikan

Artikel ini merupakan modul Pendidikan Calon Guru Penggerak yang membahas tentang Aset atau Modal dalam sebuah Komunitas. Aset atau modal tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan sekolah sebagai sebuah ekosistem Pendidikan. Selamat membaca.

Sekolah Sebagai Sebuah Ekosistem Pendidikan

Sekolah dapat dikatakan sebagai sebuah ekosistem pendidikan. Hal ini karena di sekolah terdapat sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup).

Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah diantaranya adalah:

  • Faktor-faktor Biotik.

Faktor ini meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan unsur hidup seperti manusia. Contohnya adalah Murid, Kepala Sekolah, Guru, Tenaga Kependidikan (seperti Tata Usaha (TU), Satpam/Penjaga sekolah). Contoh lainnya adalah Pengawas Sekolah, orang tua dan masyarakat di sekitar sekolah.

  • Faktor-faktor Abiotik.

Faktor ini meliputi segala sesuatu yang non hidup seperti  Faktor keuangan, Sarana dan prasarana dan lainnya

Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lain sehingga akan menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis.

Keberhasilan sebuah proses pembelajaran sangat bergantung pada acara pandang sekolah pada dirinya dalam membangun dan merangsang kreativitas ekosistemnya untuk menunjang keberhasilan tujuan pendidikan yang ingin dicapai sebagaimana yang telah tertuang dalam visi dan misi sekolah tersebut.

Dalam ekosistem sekolah faktor-faktor biotik ini akan saling mempengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Ibarat siklus dalam rantai makanan, ia akan saling mempengaruhi dan membutuhkan satu sama lainnya sehingga terciptalah keselarasan dan keharmonisan yang diharapkan.

Lihat Juga : Pengambilan dan Pengujian Keputusan

Sekolah Sebagai Sebuah Sumber Daya

Ada dua pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan sumber daya yaitu :

  1. Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Thinking)
  2. Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Asset-Based Thinking).

Berikut ini penjelelasan mengenai perbedaan kedua pendekatan tersebut.

Pendekatan berbasis aset (Asset-Based Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer. Pendekatan ini menekankan kepada cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan. Hal ini dilakukan dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, dimana kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, dan yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif yang dimiliki.

Sedangkan Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Thinking) adalah sebuah konsep pendekatan yang fokus pada apa yang kurang, apa yang mengganggu dan apa yang tidak bekerja. Segala sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negatif yang semakin lama akan membuat kita lupa akan potensi kekuatan yang ada disekitar kita untuk dioptimalkan.

Penutup

untuk dapat mengetahui hal yang berkaitan dengan Aset atau Modal yang adapat diberdayaan dalam pendekatan berbasis Aset (Asset-Based Thinking), silahkan baca : Aset dalam Sebuah Komunitas (Modul CGP) dan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset.

Share This

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *