Evaluasi Kurikulum 2013

Artikel berikut berkaitan dengan Hasil Evaluasi Kurikulum 2013 secara dokumen maupun implementasi (penerapan nya). Selamat membaca

Evaluasi Kurikulum 2013

Hasil Evaluasi Dokumen Kurikulum 2013

Terdapat beberapa hasil evaluasi kurikulum 2013 yang berkaitan dengan dokumen untuk kurikulum ini. Berikut hasil evaluasi dokumen kurikulum 2013.

  • Kompetensi Kurikulum 2013 terlalu luas, sulit dipahami, dan diimplementasikan oleh guru.
  • Kurikulum 2013 masih dirumuskan secara nasional belum disesuaikan sepenuhnya oleh satuan pendidikan. Padahal sebaiknya kurikulum harus sesuai dengan situasi dan kebutuhan satuan pendidikan, daerah, dan peserta didik.
  • Pada kurikulum 2013, Mata pelajaran informatika (TIK) bersifat pilihan.  Padahal kompetensi teknologi merupakan salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki oleh peserta didik pada abad 21.
  • Pengaturan jam belajar menggunakan satuan minggu (per minggu) tidak memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan. Satuan pendidikan memerlukan keleluasaan untuk mengatur pelaksanaan mata pelajaran dan menyusun kalender pendidikan. Akibatnya, kegiatan pembelajaran menjadi padat.
  • Pendekatan tematik (jenjang PAUD dan SD) dan mata pelajaran (jenjang SMP, SMA, SMK, Diktara, dan Diksus) merupakan satu-satunya pendekatan dalam Kurikulum 2013. Tidak ada pilihan pendekatan lain yang dapat dipilih satuan pendidikan.
  • Struktur kurikulum pada jenjang SMA yang memuat mata pelajaran pilihan (peminatan) kurang memberikan keleluasaan bagi siswa untuk memilih selain peminatan IPA, IPS, atau Bahasa. Gengsi peminatan juga dipersepsi hirarkis.

Lihat Juga : Kurikulum Prototipe : Apa dan Bagaimana Sistemnya

Hasil Evaluasi Implementasi Kurikulum 2013

Selain Evaluasi dokumen, artikel ini juga membahas evaluasi terhadap implementasi atau penerapan kurikulum 2013 yang selama ini sudah berjalan. Berikut ini perinciannya.

  • Komponen perangkat pembelajaran terlalu banyak dan menyulitkan guru dalam membuat perencanaan.
  • Rumusan kompetensi yang detil dan terpisah-pisah sulit dipahami sehingga guru kesulitan menerjemahkan dalam pembelajaran yang sesuai filosofi Kurikulum 2013.
  • Strategi sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan monitoring implementasi Kurikulum 2013 belum terlaksana secara tepat dan optimal, belum variatif, belum sesuai dengan kebutuhan, dan belum efektif. Contoh kendala: sosialisasi tidak sampai langsung kepada tingkat gugus, pemilihan instruktur ditetapkan sentralistik sehingga tidak sesuai kebutuhan, dan pelatihan masih dilakukan secara konvensional dengan ceramah yang cenderung teoritik.
  • Masih banyak pengawas, kepala sekolah, dan guru yang memiliki pemahaman kurang tentang kerangka dasar, diversifikasi, dan konsep implementasi Kurikulum 2013.
  • Sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan monitoring implementasi Kurikulum 2013 belum berdampak optimal terhadap pemahaman pengawas, kepala sekolah, dan guru, kemampuan dan kinerja guru, serta peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.

Lihat Juga : Pelatihan Kurikulum Prototipe

Catatan :

  • Hasil evaluasi dalam artikel ini bersumber dari BADAN STANDAR, KURIKULUM, DAN ASESMEN PENDIDIKAN KEMDIKBUD.
  • Evaluasi yang telah dilakukan merupakan hasil kompilasi berbagai kajian, penelitian, dan monev yang dilakukan berbagai pihak, antara lain Puskurjar, Direktorat terkait, dan berbagai Perguruan Tinggi
Share This

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *