Hybrid Learning : Sistem Pembelajaran di Masa Pandemi

Saat ini seluruh dunia masih bergelut dengan  Pandemi Covid 19. Banyak Negara yang telah merasakan dampaknya termasuk Indonesia. Segala sektor telah terpengaruh oleh pandemi ini. Salah satu sektor yang merasakan imbasnya adalah Dunia Pendidikan. Sudah hampir dua tahun murid terasa ‘terlantar’ karena situasi yang tak menentu saat ini. Banyak Kebijakan yang telah di keluarkan oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan kebudayaan. Salah satu nya dalah program pemberian Kuota Gratis bagi Guru, Dosen, Mahasiswa dan Siswa. Hal ini diharapkan agar pembelajaran dapat terus terlaksana walaupun dengan sistem daring (online).  Salah satu sistem pembelajaran yang dapat di terapkan adalah Hybrid Learning. Berikut ini postingan yang berkaitan dengan Hybrid Learning. Selamat membaca.

Apa itu Hybrid Learning?

Hybrid learning adalah pembelajaran yang menggunakan sistem daring (online) dan dikombinasikan dengan pertemuan tatap muka terbatas (PTMT) dengan durasi waktu tertentu. Konsep ini dapat di pilih mengingat dalam beberapa bulan terakhir siswa hanya di hadapkan kepada pemebelajaran full daring yang sudah tentu sangat membosankan bagi siswa/i. Penerapan Hybrid Learning ini diharapkan dapat meminimalisir dampak psikososial siswa.

Konsep Hybrid yang dimaksud adalah pembelajaran tatap muka terbatas dimana sistem pembelajran dilaksanakan secara rotasi dengan jumlah maksismum siswa hanya setengah (50%) dari jumlah siswa di kelas. Sebagai Contoh, Jika sebelumnya terdapat 30 orang siswa di dalam sebuah kelas, maka jumlah siswa yang di izinkan mengikuti pembelajaran ini adalah 15 orang per pertemuan tatap muka di kelas. Sisanya mengikuti kelas pembelajaran daring atau luring. Hal ini akan dilaksanakan secara bergantian (sistem rotasi). Pembelajaran tatap muka dilakukan untuk memberi kesempatan bagi anak-anak yang kesulitan melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

hybrid learning 2

Dalam hal ini, Orangtua dapat memilih jenis moda pembelajaran bagi anaknya. Mereka dapat memilih mengikuti tatap muka, pembelajaran daring, atau luring. Bagi siswa yang kesulitan mengakses internet, mereka bisa datang 2-3 kali seminggu ke sekolah belajar dengan gurunya.

Catatan :

Waktunya disesuai dengan kesepakatan bersama dan wajib mengutamakan keamanan dan kesehatan.

Menerapkan hybrid learning

Penerapan hybrid learning sama seperti dengan pembelajaran yang dilakukan selama ini, yaitu dimulai dengan persiapan. Persiapan hybrid learning dimulai dengan melakukan analisis peserta didik, konteks dan konten pembelajaran atau perkuliahan. Hasil dari analisis ini untuk memetakan kompetensi harus dikuasai oleh peserta didik melalui tatap muka secara langsung atau mandiri secara daring. Selanjutnya hasil analisis tersebut dituangkan ke dalam silabus atau rencana pembelajaran.

Pelaksanaan hybrid learning dapat dilaksanakan dengan pembagian peserta pembelajaran dalam satu kelas dibagi menjadi dua shift. Untuk minggu pertama misal shift A pembelajaran tatap muka shift B pembelajaran secara daring. Sebaliknya pada minggu kedua shift A pembelajaran secara daring shift B pembelajaran tatap muka. Pembelajaran tatap muka dilakukan secara langsung di dalam kelas.

Pembelajaran secara daring dilakukan untuk memfasilitasi interaksi daring dengan menggunakan learning management system (LMS), misal Edmodo, Google Classroom, Google Meet, Zoom Meet, Skype, Whatsapp atau media daring lain.

Lihat Juga : Konsep Mindfulness dalam pembelajaran

Lima kunci Hybrid Learning

Terdapat lima kunci utama dalam penerapan proses pembelajaran hybrid learning. Dalam penerapannya, hybrid learning menekankan penerapan teori pembelajaran Keller, Gagne, Bloom, Merrill, Clark dan Grey. yaitu

  1. Live event, yaitu kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara langsung atau tatap muka. Pembelajaran tatap muka yang dimaksud dilakukan secara sinkronous dalam waktu dan tempat yang sama. Bisa juga waktu yang sama dengan tempat berbeda.
  2. Self-paced learning, hal ini mengandung makna pembelajaran dikombinasikan dengan pembelajaran mandiri yang memungkinkan siswa belajar kapan saja dan dimana saja secara daring.
  3. Collaboration, yaitu kolaborasi antara guru dan siswa, juga kolaborasi antar sesama siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
  4. Assessment, artinya guru harus mampu mencari kombinasi jenis assessment daring atau luring yang tepat bagi siswanya. Bentuknya bisa berupa tes maupun nontes seperti proyek kelas.
  5. Performance support materials, yaitu untuk memastikan bahan belajar disiapkan dalam bentuk digital. Tujuannya agar bahan belajar tersebut dapat dengan mudah diakses oleh siswa, baik secara daring maupun luring.

Lihat Juga : Guru Belajar dan Berbagi Kemendikbud

Penutup

Demikian artikel mengenai pembelajaran dengan konsep Hybrid Learning. Pembelajaran secara daring real time sebaiknya juga disertai tugas mandiri dan terstruktur. Evaluasi pembelajaran hybrid learning mencakup evaluasi atau hasil capaian pembelajaran untuk mengukur penguasaan kognitif, psikomotorik, dan afektif. Ujian dapat dilakukan secara tata muka di sekolah atau dilakukan secara daring.

(sumber)

Share This
Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *