Pengembangan Komunitas Berbasis Aset

Artikel ini membahas tentang pengembangan komunitas berbasis aset. Setelah pada artikel sebelumnya kita membahas tentang pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit based thinking). Selamat membaca.

Pendekatan Berbasis Aset

Pendekatan berbasis aset (Asset Based Thinking) merupakan sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer. Beliau merupakan seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri.

Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan. Dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, pendekatan ini mengajak kita untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja serta apa yang menjadi inspirasi dan apa yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.

Perbedaan Pendekatan Berbasis Kekurangan dan Pendekatan Berbasis Aset

Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan perbedaan antara pendekatan berbasis pada kekurangan/masalah/hambatan dan pendekatan berbasis aset.

Berbasis pada kekurangan/masalah/hambatan Berbasis pada aset
Fokus pada masalah dan isu Fokus pada aset dan kekuatan
Berkutat pada masalah utama Membayangkan masa depan
Mengidentifikasi kebutuhan dan kekurangan – selalu bertanya apa yang kurang? Berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut.
Fokus mencari bantuan dari sponsor atau institusi lain Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan)
Merancang program atau proyek untuk menyelesaikan masalah Merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan
Mengatur kelompok yang dapat melaksanakan proyek Melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan

(Green & Haines, 2010)

 

Sejarah Pendekatan ABCD (Asset Based Community Development)

Asset-Based Community Development (ABCD) yang selanjutnya akan kita sebut dengan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) merupakan suatu kerangka kerja yang dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) muncul sebagai kritik terhadap pendekatan konvensional atau tradisional yang menekankan pada masalah, kebutuhan, dan kekurangan yang ada pada suatu komunitas. Pendekatan tradisional tersebut menempatkan komunitas sebagai penerima bantuan, dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas menjadi tidak berdaya, pasif, dan selalu merasa bergantung dengan pihak lain.

Lihat Juga : Pendekatan Berbasis Masalah (Deficit Based Thinking)

Karakteristik Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset

Berikut ini karakteristik pendekatan pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA).

  • Menekankan pada nilai, prinsip dan cara berpikir mengenai dunia.
  • Memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. Dengan demikian pendekatan ini melihat komunitas sebagai pencipta dari kesehatan dan kesejahteraan, bukan sebagai sekedar penerima bantuan.
  • Menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna.
  • Menekankan kepada kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih berkelanjutan.
  • Berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas.

Selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi. Pendekatan PKBA merupakan pendekatan yang digerakkan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau disebut sebagai community-driven development. Di dalam buku ‘Participant Manual of Mobilizing Assets for Community-driven Development’ (Cunningham, 2012) menuliskan perbedaannya dengan pendekatan yang dibantu oleh pihak luar.

Lihat Juga : Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab

Pengembangan Komunitas berbasis Aset di Sekolah

Penjelasan yang ada sebenarnya ditujukan untuk pengembangan masyarakat. Akan tetapi, pendekatan ini tetap dapat diimplementasikan pada lingkungan sekolah karena sekolah merupakan sebuah miniatur tatanan masyarakat di suatu daerah. Berikut ini inti dari pengembangan komunitas berbasis Aset di Sekolah.

  1. Perubahan masyarakat yang signifikan karena warga lokal dalam masyarakat tersebut yang mengupayakan perubahan. Apabila kita aplikasikan ke lingkungan sekolah dan seluruh warga sekolah berupaya melakukan perubahan maka perubahan tersebut pasti akan terjadi.
  2. Warga masyarakat akan bertanggung jawab pada yang sudah mereka mulai.  Dengan demikian setiap warga sekolah akan bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai.
  3. Membangun dan membina hubungan merupakan inti dari membangun masyarakat inklusif yang sehat.  Membangun dan membina hubungan antar warga sekolah, seperti hubungan guru-guru, guru – kepala sekolah, guru – murid – guru, guru – staf sekolah – guru, staf sekolah – murid – staf sekolah, ataupun kepala sekolah – murid – kepala sekolah menjadi sangat penting untuk membangun sekolah yang sehat dan inklusif.
  4. Masyarakat tidak pernah dibangun dengan berfokus terus pada kekurangan, kebutuhan dan masalah. Masyarakat merespons secara kreatif ketika fokus pembangunan pada sumber daya- sumber yang tersedia, kapasitas yang dimiliki, kekuatan dan aspirasi yang ada.  Sekolah harus dibangun dengan melihat pada kekuatan, potensi, dan tantangan, kita harus bisa fokus pada pembangunan sumber daya yang tersedia, kapasitas yang kita miliki, serta kekuatan dan aspirasi yang sudah ada.
  5. Kekuatan sekolah berbanding lurus dengan tingkat keberagaman keinginan unsur sekolah yang ada, dan pada tingkat kemampuan mereka untuk menyumbangkan kemampuan yang ada pada mereka dan aset yang ada untuk sekolah yang lebih baik.
  6. Dalam setiap unsur sekolah, pasti ada sesuatu yang berhasil. Dari pada menanyakan “ada masalah apa?” dan “bagaimana memperbaikinya?”, lebih baik bertanya “apa yang telah berhasil dilakukan?” dan “bagaimana mengupayakan lebih banyak hasil lagi?” Cara bertanya ini mendorong energi dan kreativitas.

Lihat Juga : Dilema Etika : Empat Paradigma Dilema Etika

Penutup

Berikut ini beberapa poin penting yang dapat menjadi kesimpulan dalam topik ini, yaitu :

  1. Pengembangan komunitas berbasis aset Menciptakan perubahan yang positif mulai dari sebuah perbincangan sederhana. Hal ini merupakan cara bagaimana manusia selalu berpikir bersama dan mencetuskan/memulai suatu tindakan.
  2. Suasana yang menyenangkan harus merupakan salah satu prioritas tinggi dalam setiap upaya membangun sekolah.
  3. Faktor utama dalam perubahan yang berkelanjutan adalah kepemimpinan lokal dan pengembangan dan pembaharuan kepemimpinan itu secara terus menerus.
  4. Titik awal perubahan selalu pada perubahan pola pikir (mindset) dan sikap yang positif.

Catatan : Artikel ini merupakan modul pembelajaran Calon Guru Penggerak dengan topik Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya.

Share This

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *